Usulan Mekanisme Baru dalam Pemuliaan Tetua Jagung Hibrida Bersama Penyelenggara Berbeda
Makassar (3/10) – Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Serealia (BRMP Taser) menjadi salah satu Lokasi UPT yang dijadikan target pelaksanaan pengkajian oleh Balai Pengelola Hasil Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP PH) berkaitan dengan hasil-hasil HKI yang akan dilanjutkan perlindungannya. Dalam pengantar diskusi Kepala BRMP PH, Nuning Nugrahani, yang juga diikuti oleh Kepala BRMP Taser, Dr. Amin Nur, SP., M.Si. bahwa BRMP Taser adalah Lokasi ke-4 yang menjadi target pelaksanaan pengkajian yang berhubungan dengan implementasi tugas dan fungsi ‘pengendalian’ sebagaimana disebutkan menjadi tusi dari BRMP PH dalam Permentan 10/2025. Nuning menyampaikan bahwa di ke-3 lokasi lain saat ini sedang dilakukan konfirmasi perlindungan HKI, salah satu yang sudah mengirimkan konfirmasinya adalah BRMP Padi, dimana hanya 7 PVT Hibrida Padi, 2 PVT Inbrida Padi, serta 2 paten saja yang dilanjutkan perlindungannya dari total yang dimiliki sebanyak 29 PVT Padi dan 10 Paten Granted. Dari konfirmasi ini akan diperoleh penurunan biaya tahunan yang selama ini dianggarkan dalam DIPA BRMP PH. Artinya upaya ini akan mendorong ‘pemanfaatan‘ yang lebih luas di masyarakat, tidak saja kepada mitra pelisensi, tambah Nuning.
Paparan diskusi yang disampaikan oleh Jayu, SE.Ak., MBA selaku Ketua Tim Kerja Program dan Evaluasi menjelaskan latar belakang kajian sebagaimana tugas dan fungsi BRMP PH, dan kajian kontribusi nilai ekonomi dari pemberian lisensi jagung hibrida selama 4 tahun sejak 2020-2024. Diungkap oleh Jayu, bahwa secara perhitungan RoI (Return on Investment) penjualan dan penyetoran royalti jagung hibrida sudah cukup memadai dan bernilai positif. Walaupun saat ini, diantara mitra juga melakukan penundaan pembayaran kewajibannya dalam hal PNBP royalti, jelasnya. Disebutkan angka fantastis penjualan jagung hibrida dalam 4 tahun ini diperoleh sebesar Rp 441 M atau perolehan royalti sebesar Rp 11M dengan kontribusi dalam penyediaan benih jagung dapat dipenuhi untuk 650rb hektar apabila dibutuhkan 20 kg/ha-nya, jelasnya lagi. Ditambahkan juga bahwa sari 39 varietas hampir 74,39%nya diminati pelisensi, namun baru 44,83% saja yang berhasil dikomersialisasi. Dan angka ini merupakan yang tertinggi dibandingkan HKI yang lain, tambahnya lagi.
Di sesi diskusi Kepala BRMP Taser mengupdate adanya PVT Jagung Hibrida baru yang dilakukan pemuliaannya secara bersama dengan UNHAS dan menjadi milik UNHAS. Beliau menganjurkan agar BRMP PH membangun mekanisme bagi hasilnya kelak apabila varietas baru ini dilisensi dan lisensinya diberikan dari UNHAS, jelasnya. Karena kedepan pihaknya melihat aka nada mekanisme yang sama untuk tetua Jantan dan betina yang berada di institusi berbeda, tambahnya. Nuning memperhatikan usulan ini akan menjadi PR baru bagi pihaknya terutama pada kondisi penyediaan salah satu tetua yang dilakukan oleh salah satu institusi, nanti penuangannya akan disebutkan dalam kontrak kerja sama lisensi sesuai hasil yang dinegosiasikan, tutupnya.
Nuning menegaskan bahwa selalu ada ilmu baru di pelaksanaan kajian pengendalian HKI ini terutama atas karakter dan peluang pemanfaatan hasil dan pengendaliannya yang selalu dilihatnya sebagai salah satu yang saling kontradiktif dan kontra produktif, tutupnya.